Teruntuk :
Wanita Muslimah Nan “Nyentrik”
Yang Selalu Rindu Akan Perubahan Dalam Dirinya
Untuk Menjadi Yang Terbaik Di Mata Allah SWT, Rasulullah
Dan Malaikat-Malaikat Allah.
Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
Assaalmu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Sesuai dengan janji aku untuk menjawab semua pertanyannmu paling lambat hari ini, Sabtu 1 Maret 2008 sebelum jam 21.00 WIB, maka ijinkan aku untuk mengekspresikan semua perasaanku melalui surat ini.
Sebelumnya maafkan aku. Ternyata aku benar-benar belum bisa memahamimu. Entah karena kita jauh, atau aku yang terlalu sok sibuk, atau aku yang terlalu cuek dengan keadaan?? Ah, aku tidak tahu. Mungkin hanya Allah SWT yang tahu jawabannya. Karena aku yakin, ini semua adalah rencana Allah SWT yang indah buat aku.
Melalui surat ini, aku ingin berbicara denganmu dengan hatiku, bukan dengan mulut dan nafsuku. Aku baru tahu kesulitan apa yang kamu rasakan setelah aku mendengar ceritamu tadi siang melalui telepon. Melalui surat ini pula, aku ingin menjawab pertanyaanmu dengan ilmuku bukan dengan ilmu orang lain. Akulah yang harus menjawabnya sendiri.
Mas Ary Ginanjar bilang : “Jangan ijinkan hati kita ini kecewa, sakit, tersakiti, dan disakiti oleh orang lain”. Rasulullah pun mengajarkan kita untuk bersikap IKHLAS dalam segala hal di dunia ini. Menurut aku, jika kita bisa bersikap IKHLAS kepada Allah SWT, maka sesungguhnya kemenangan telah berpihak kepada kita.
Aku ingin mengawali jawaban aku ini dengan sebuah kata IKHLAS. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Keputusan akhir tetap ditangan Allah SWT.
Tidak ada alasan bagi seorang muslimah untuk menolak pinangan dari seorang laki-laki muslim yang ingin menyatakan niatnya untuk menikahi wanita muslimah tersebut. Menolaknya adalah dosa. Sebab, sebaik-baik manusia di dunia ini adalah yang paling baik akhlaknya, amalnya dan ketakwaanya kepada allah SWT. Allah SWT akan marah apabila salah satu dari kekasih-Nya itu dikecewakan oleh orang lain.
Semua orang, semua manusia di dunia ini, pasti mengharapkan jodoh yang baik dan setia pada pasangannya. Untuk menjadi baik dan setia tentunya kita harus memahami sifat-sifat Allah SWT yang tercantum dalam Asma Allah Yang Agung yaitu Asmaul Husna. So, konsekuensinya kita harus lebih meningkatkan dan mengenal Allah SWT lebih dekat untuk bisa menjadi orang yang baik dan setia pada pasangannya tersebut. Karena semua Asma Allah mengajarkan pada kita untuk menjadi orang yang baik. Maka kita harus belajar dari Asmaul Husna.
Mari kita bertanya dalam hati, benar gak sih kita ini menginginkan jodoh yang baik dan setia pada pasangannya? Jika jawabannya iya, pasti kita akan mencari calon jodoh yang baik agamanya. Insya Allah jodoh yang agamanya baik, sikapnya akan baik pula terhadap kita.
Nah, semuanya aku kembalikan kepada kamu. Aku percaya bahwa cinta tidak harus memiliki. Keinginan untuk memiliki berarti bukan cinta namanya, tetapi nafsu. Aku yakin kamu pasti juga menginginkan jodoh yang baik dan setia pada pasangannya.
Jujur, aku mengagumimu. Bukan kecantikan fisikmu semata yang mencuri hatiku melainkan kecantikan hatimu yang menggoda imanku.
Mencari jodoh, buat aku seperti lomba lari cepat 100 meter (Sprint). Seorang Sprinter sejati akan mampu memenangkan sebuah lomba jika dia berhasil malakukan start awal yang lebih baik. Start awal disini adalah melamar atau meminang seorang wanita muslimah yang Insya Allah baik agamanya.
Bodohnya, saat ini aku belum bisa melakukan start awal tersebut karena masih begitu banyak persiapan dan pelatihan yang diberikan oleh Pelatihku. Sepertinya Pelatihku belum mengijinkan aku untuk ikut lomba lari Sprint pada tahun ini. Aku harus lebih banyak berlatih terlebih dahulu.
Aku tidak boleh kecewa, aku tidak boleh memaksakan diri untuk ikut ambil bagian dalam lomba lari Sprint tahun ini. Biarkan sebuah Piala Emas yang aku impi-impikan selama ini menjadi milik Sprinter lain yang lebih siap dan kuat dalam memenangi lomba.
Toh tahun depan masih ada lomba seperti ini lagi. Aku harus secepatnya melahap semua instruksi dan pelatihan yang diberikan Mentorku agar secepatnya bisa ikut lomba lari Sprint tahun depan. Aku benar-benar ingin mendapatkan Piala Emas tersebut.
Itu tadi sekelumit perumpamaan tentang bagaiman cara mendapatkan seorang jodoh yang baik. Kita harus mengambil start awal terlebih dahulu sebelum orang lain mendahului kita.
Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kamu. Aku jadi ingat, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak boleh dan tidak akan jatuh cinta lagi sebelum aku mampu dan siap untuk segera menjadikan dia sebagai pendamping hidupku.
Konsekuensi dari jatuh cinta sebelum saatnya memang seperti ini. Selama kita belum bisa mengabadikannya dalam jalinan pernikahan yaitu Akad Nikah, kita harus siap untuk kehilangan. Kita harus siap kecewa dan sakit hati. Karena cinta yang hadir sebelum Akad Nikah adalah cinta yang semu dan tidak perlu di agung-agungkan.
Dan mungkin juga, perasaan yang saat ini hadir diantara kita, adalah sebuah bisikan syaiton yang ingin menyesatkan kita. Idealisme kita sebenarnya sama. Sama-sama tidak ingin berpacaran. Niat awal kita adalah Ta’aruf. Tetapi sepertinya idealisme kita sekarang ini pudar, hilang dan bahkan tidak ada bekasnya sama sekali.
Dan jika Allah SWT menghendaki semua ini, seperti yang kamu ceritakan : “Bahwa dulu seseorang yang ada di dalam hatimu dan kamu sangat mengagumi dan mencintainya tiba-tiba ingin melamar kamu. Bukankah itu lebih baik buat kamu dari pada kamu terjebak dalam lingkaran syaiton ini bersama aku?
Aku tahu, aku bisa merasakan, bahwa cintamu padanya sebenarnya sungguh luar biasa hebat dan dalam. Meskipun engkau pernah dikecewakannya. Tapi bukankah keinginan dia saat ini adalah sesuatu yang engkau impi-impikan sejak dulu?
Aku tidak ingin mendahului keputusan Allah SWT. Jujur, aku mengagumimu namun aku belum berani untuk mencintaimu. Sekali lagi, cinta yang hadir sebelum Akad Nikah menurut aku adalah cinta yang semu. Bullshit, mungkin istilah kerennya sekarang seperti itu.
Insya Allah, aku IKHLAS dengan semua keputusan Allah SWT yang ditetapkan untukku nantinya. Aku sendiri yang salah. Telah mengijinkan hatiku untuk mengagumi keindahanmu, tanpa berusaha secepatnya (maksimal 3 bulan) untuk menyatakan keseriusanku padamu melalui wali nikahmu.
Sekarang keputusan ada di tangan mu...yang bisa memutuskan hanya mu sendiri...
Maafkan aku, alasan kenapa aku belum berani melamar kamu; karena masih banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus aku laksanakan dan aku persiapkan untuk menjemput masa depanku.
Sekali lagi terima kasih. Karena kamu telah mengigatkanku. Melalui pengalaman ini aku akan belajar untuk lebih menjaga hati dan tidak jatuh cinta pada seseorang sebelum aku benar-benar siap dan mampu untuk melaksanakan sunah Rasul yaitu menikah.
Aku yang mengagumimu.....
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Terima Kasih Ya Allah, Ternyata Engkau Masih Mencintaiku...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar